Perubahan anatomi dan adaptasi
fisiologi pada ibu hamil sebagian besar sudah terjadi segera setelah
fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan. Kebanyakan perubahan ini
merupakan respon terhadap janin. Ibu hamil mengalami perubahan anatomi dan adaptasi
fisiologi pada tubuhnya sesuai dengan usia kehamilannya. Mulai dari trimester I
sampai dengan trimester III kehamilan. Perubahan-perubahan anatomi tersebut
meliputi perubahan sistem reproduksi, payudara, sistem endokrin, sistem
kekebalan, dan sistem perkemihan. Perubahan yang terjadi selama kehamilan
tersebut akan kembali seperti keadaan sebelum hamil, setelah proses persalinan
dan menyusui selesai.
A.
Sistem Reproduksi
1.
Trimester I
a.
Uterus
Pembesaran uterus meliputi peregangan dan penebalan
sel-sel otot sementara produksi meosit yang baru sangat terbatas. Bersamaan
dengan hal itu terjadi akumulasi jaringan ikat dan elastik, terutama pada
lapisan otot luar. Kerja sama tersebut akan meningkatkan kekuatan dinding
uterus. Daerah korpus pada bulan-bulan pertama akan menebal, tetapi seiring
dengan bertambahanya usia kehamilan akan menipis. Pada akhir kehamilan
ketebalannya hanya sekitar 1,5 cm bahkan kurang. Pada awal kehamilan penebalan
uterus distimulasi terutama oleh hormon esterogen dan sedikit oleh progesteron.
Akan tetapi, setelah kehamilan 12 minggu lebih penambahan ukuran uterus
didominasi oleh desakan dari hasil konsepsi. Pada awal kehamilan tuba fallopi,
ovarium, dan ligamentum rotundum berada sedikit di bawah apeks fundus, sementara
pada akhir kehamilan akan berada sedikit di atas pertengahan uterus. Posisi
plasenta juga mempengaruhi penebalan sel-sel otot uterus, dimana bagian uterus
yang mengelilingi implantasi plasenta akan bertambah besar lebih cepat
dibandingkan bagian lainnya. Sehingga akan menyebabkan uterus tidak rata.
Fenomena ini dikenal dengan tanda piscaseck. Pada minggu-minggu pertama
kehamilan uterus masih seperti bentuk aslinya seperti buah alpukat. Seiring
dengan perkembangan kehamilannya, daerah fundus dan korpus akan membulat dan
akan menjadi bentuk sferis pada usia kehamilan 12 minggu. Istimus uteri pada
minggu pertama mengadakan hipertrofi seperti korpus uteri yang mengakibatkan
ithmus menjadi lebih panjang dan lunak yang dikenal dengan tanda Hegar. Pada
akhir kehamilan 12 minggu uterus akan menyentuh dinding abdominal mendorong
usus. Seiring perkembangannya, uterus akan menyentuh dinding abdominal
mendorong usus kesamping, dan keatas, terus tumbuh hingga hampir menyentuh
hati. Sejak trimester I kehamillan uterus akan mengalami kontraksi yang tidak
teratur dan umumnya tidak disertai nyeri.
b.
Serviks
Serviks menjadi lunak (soft) yang disebut dengan
tanda Goodell, banyak jaringan ikat yang mengandung kolagen, kelenjar servikal
membesar dan mengeluarkan banyak cairan mukus karena pertambahan dan pelebaran
pembuluh darah, warnanya menjadi livid yang disebut tanda Chadwick.
c.
Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan
pematangan folikel baru juga ditunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat
ditemukan di ovarium. Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu
awal kehamilan. Dan setelah itu akan berperan sebagai penghasil progesteron
dalam jumlah yang relatif minimal.
d.
Vagina dan Vulva
Minggu ke-8 terjadi hipervaskularisasi sehingga vagina
tampak merah dan kebiruan (tanda chadwick). pH vagina menjadi lebih asam, dari
4 menjadi 6,5 menyebabkan rentan terhadap infeksi vagina. Mengalami
deskuamasi/pelepasan elemen epitel pada sel-sel vagina akibat stimulasi
estrogen membentuk rabas vagina disebut leukore (keputihan). Hormon kehamilan
mempersiapkan vagina supaya distensi selama persalinan dengan produksi mukosa
vagina yang tebal, jaringan ikat longar, hipertropi otot polos dan pemanjangan
vagina.
2.
Trimester II
a.
Uterus
Bentuk uterus pada kehamilan empat bulan berbentuk bulat
sedangkan pada akhir kehamilan berbentuk bujur telur. Pada kehamilan lima bulan
rahim teraba seperti berisi cairan ketuban dan dinding rahim terasa tipis.
Posisi rahim antara lain :
1)
Pada empat bulan kehamilan, rahim tetap berada pada rongga pelvis.
2) Setelah itu, mulai memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat
mencapai batas hati.
3) Rahim yang hamil biasanya mobilitasnya, lebih mengisi rongga abdomen kanan
atau kiri.
Pada kehamilan 16 minggu, kavum uteri seluruhnya diisi
oleh amion dimana desidua kapsularis dan desidua vera (parietalis) telah
menjadi satu. Tinggi TFU terletak antara pertengahan simpisis pusat. Plasenta
telah terbentuk seluruhnya. Pada kehamilan 20 minggu, TFU terletak 2-3 jari di
bawa pusat. Pada kehamilan 24 minggu, TFU terletak setinggi pusat.
b.
Serviks
Serviks bertambah dan menjadi lunak (soft) yang
disebut dengan tanda Gooldell. Kelenjar endoserfikal membesar dan mengeluarkan
cairan mukus. Oleh karena pertumbuhan dan pelebaran pembuluh darah, warnanya
menjadi lipid yang disebut tanda Chadwick.
c.
Ovarium
Saat ovulasi terhenti masih terdapat korpus luteum
graviditas sampai terbentuknya plasenta yang mengambil alih pengeluaran
esterogen dan progesteron (kira-kira pada kehamilan 16 minggu dan korpus luteum
graviditas berdiameter kurang lebih 3 cm).
d.
Vagina dan vulva
Terjadi peningkatan vaskularisasi vagina dan peningkatan
sensitifitas yang menyolok, serta meningkatkan libido.
3.
Trimester III
a.
Uterus
Berat uterus naik secara luar biasa dari 30 gram – 1.000
gram pada akhir kehamilan empat puluh minggu. Pada kehamilan 28 minggu, TFU
(Tinggi Fundus Uteri) terletak 2-3 jari di atas pusat, pada kehamilan 36 minggu
tinggi TFU satu jari di bawah Prosesus xifoideus. Dan pada kehamilan 40 minggu
TFU berada tiga jari di bawah Prosesus xifoideus. Pada trimester III, istmus
uteri lebih nyata menjadi corpus uteri dan berkembang menjadi segmen bawah
uterus atau segmen bawah rahim (SBR). Pada kehamilan tua, kontraksi otot-otot
bagian atas uterus menyebabkan SBR menjadi lebih lebar dan tipis (tampak batas
yang nyata antara bagian atas yang lebih tebal dan segmen bawah yang lebih
tipis). Batas ini dikenal sebagai lingkaran retraksi fisiologik. Dinding uterus
di atas lingkaran ini jauh lebih tebal daripada SBR.
b.
Serviks
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan
karena hormon estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan adanya
hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak. Serviks uteri lebih
banyak mengandung jaringan ikat yang terdiri atas kolagen. Karena servik
terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit mengandung jaringan otot, maka
serviks tidak mempunyai fungsi sebagai spinkter, sehingga pada saat partus
serviks akan membuka saja mengikuti tarikan-tarikan corpus uteri ke atas dan
tekanan bagian bawah janin ke bawah. Sesudah partus, serviks akan tampak
berlipat-lipat dan tidak menutup seperti spinkter. Perubahan-perubahan pada
serviks perlu diketahui sedini mungkin pada kehamilan, akan tetapi yang
memeriksa hendaknya berhati-hati dan tidak dibenarkan melakukannya dengan
kasar, sehingga dapat mengganggu kehamilan. Kelenjar-kelenjar di serviks akan
berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang
wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak.
Pada keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan fisiologik,
karena peningkatan hormon progesteron. Selain itu prostaglandin bekerja pada
serabut kolagen, terutama pada minggu-minggu akhir kehamilan. Serviks menjadi
lunak dan lebih mudah berdilatasi pada waktu persalinan.
c.
Ovarium
Ovulasi terhenti, fungsi pengeluaran hormon estrogen dan
progesteron di ambil alih oleh plasenta.
d.
Vagina dan Vulva
Vagina dan vulva mengalami perubahan karena pengaruh
estrogen. Akibat dari hipervaskularisi, vagina dan vulva terlihat lebih merah
atau kebiruan. Warna livid pada vagina atau portio serviks disebut tanda
Chadwick.
B.
Payudara
1.
Trimester I
Payudara (mamae) akan membesar dan tegang akibat hormon
somatomamotropin, estrogen dan progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan ASI.
Estrogen menimbulkan hipertropi sistem saluran, sedangkan progesterone menambah
sel-sel asinus pada mammae. Somatomamotropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel
asinus pula dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel sehingga terjadi pembuatan
kasein, laktralbumun dan laktoglobulin. Dengan demikian mammae dipersiapkan
untuk laktasi. Disamping itu di bawah pengaruh progesteron dan somatomamotropin
terbentuk lemak sekitar alveolus-alveolus, sehingga mammae menjadi lebih besar.
Papilla mammae akan membesar, lebih tegang dan tambah lebih hitam, seperti
seluruh areola mammae karena hiperpigmentasi. Hipertropi kelenjar sebasea
(lemak) muncul di areola primer dan disebut tuberkel Montgomery. Glandula
Montgomery tampak lebih jelas menonjol dipermukaan areola mammae. Rasa penuh,
peningkatan sensitivitas, rasa geli, dan rasa berat di payudara mulai timbul
sejak minggu keenam gestasi. Perubahan payudara ini adalah tanda mungkin hamil.
Sensivitas payudara bervariasi dari rasa geli ringan sampai nyeri tajam.
Peningkatan suplai darah membuat pembuluh darah di bawah kulit berdilatasi.
Pembuluh darah yang sebelumnya tidak terlihat, sekarang terlihat, seringkali
tampak sebagai jalinan jaringan biru di bawah permukaan kulit. Kongsti vena di
payudara lebih jelas terlihat pada primigravida. Striae dapat terlihat di
bagian luar payudara.
2.
Trimester II
Kolostrum mulai muncul, warnanya bening kekuning-kuningan.
Pertumbuhan payudara pun lebih besar lagi karena dipengaruhi oleh kelenjar
mamae, dan berakhir pada usia kehamilan 20 minggu.
3.
Trimester III
Mammae semakin tegang dan membesar sebagai persiapan
untuk laktasi akibat pengaruh somatotropin, estrogen, dan progesteron. Pada
payudara wanita terdapat striae karena adanya peregangan lapisan kulit. Hal ini
terjadi pada 50% wanita hamil. Selama trimester ini pula sebagian wanita
mengeluarkan kolostrum secara periodik.
C.
Sistem Endokrin
1.
Trimester I
Perubahan besar pada sistem endokrin yang penting terjadi
untuk mempertahankan kehamilan, pertumbuhan normal janin, dan pemulihan
pascapartum (nifas). Tes HCG positif dan kadar HCG meningkat cepat menjadi 2
kali lipat setiap 48 jam sampai kehamilan 6 minggu. Perubahan-perubahan
hormonal selama kehamilan terutama akibat produksi estrogen dan progesteron
plasenta dan juga hormon-hormon yang dikeluarkan oleh janin. Berikut
perubahan-perubahan hormonal selama kehamilan (dari trimester I sampai trimester
III)
a.
Estrogen
Produksi estrogen plasenta terus naik selama kehamilan
dan pada akhir kehamilan kadarnya kira-kira 100 kali sebelum hamil.
b.
Progesteron
Produksi progesteron bahkan lebih banyak dibandingkan
estrogen. Pada akhir kehamilan produksinya kira-kira 250 mg/hari. Progesteron
menyebabkan tonus otot polos menurun dan juga diuresis. Progesteron menyebabkan
lemak disimpan dalam jaringan sub kutan di abdomen, punggung, dan paha atas.
Lemak berfungsi sebagai cadangan energi baik pada masa hamil maupun menyusui.
c.
Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
Hormon ini dapat terdeteksi beberapa hari setelah
perubahan dan merupakan dasar tes kehamilan. Puncak sekresinya terjadi kurang
lebih 60 hari setelah konsepsi. Fungsi utamanya adalah mempertahankan korpus
luteim.
d.
Human Placental Lactogen (HPL)
Hormon ini diproduksi terus naik dan pada saat aterm
mencapai 2 gram/hari. Efeknya mirip dengan hormon pertumbuhan. Ia juga bersifat
diabetogenik, sehingga kebutuhan insulin wanita hamil naik.
e.
Pituitary Gonadotropin
FSH dan LH berada dalam keadaan sangat rendah selama
kehamilan karena ditekan oleh estrogen dan progesterone plasenta.
f.
Prolaktin
Produksinya terus meningkat, sebagai akibat kenaikan
sekresi estrogen. Sekresi air susu sendiri dihambat oleh estrogen ditingkat
target organ.
g.
Growth hormone (STH)
Produksinya sangat rendah karena mungkin ditekan HPL.
h.
TSH, ACTH, dan MSH
Hormon-hormon ini tidak banyak dipengaruhi oleh kehamilan.
i.
Tiroksin
Kelenjar tiroid mengalami hipertropi dan produksi T4
meningkat. Tetapi T4 bebas relatif tetap, karena thyroid dinding globulin
meninggi, sebagai akibat tingginya estrogen, dan juga merupakan akibat
hyperplasia jaringan glandular dan peningkatan vaskularisasi. Tiroksin mengatur
metabolisme.
j.
Aldosteron, Renin, dan angiotensin
Hormon ini naik, yang menyebabkan naiknya volume
intravaskuler.
k.
Insulin
Produksi insulin meningkat sebagai akibat estrogen,
progesterone dan HPL.
l.
Parathormon
Hormone ini relative tidak dipengaruhi oleh kehamilan.
2.
Trimester II
Adanya peningkatan hormon estrogen dan progesteron serta
terhambatnya pembentukan FSH dan LH. Ovum tidak terbentuk tetapi estrogen &
progesteron yang terbentuk. Ovulasi akan terjadi peningkatan sampai kadar
relatif rendah.
a. Sekresi hipofisis, kelenjar hipofisis anterior membesar sedikikitnya 50%
selama kehamilan & meningkat kortikotropin tirotropin & prolaktin.
b. Sekresi kortikosteroid meningkat selama kehamilan untuk membantu mobilisasi
asam amino dari jaringan ibu sehingga dapat dipakai untuk sintesis jaringan
janin.
c. Sekresi kelenjar tiroid, membesar sekitar 50% dan meningkat produksi tiroksin
yang sesuai dengan pembesaran tersebut.
d. Sekresi kelejar paratiroid membesar selama kehamilan, terjadi bila ibu
mengelamai defisiensi Ca/kalsium dalam makanannya. Karena janin akan mengunakan
Ca ibu untuk pembentukan tulangnya sendiri.
e. Sekresi relaksin oleh ovarium. Agak diragukan fungsinya karena mempunyai
efek perlunakan servik ibu hamil pada saat persalinan dan penghambatan
mortilitas uterus.
3.
Trimester III
Hormon Somatomamotropin, estrogen, dan progesteron
merangsang mammae semakin membesar dan meregang untuk persiapan laktasi.
D.
Sistem Kekebalan
1.
Trimester I
Peningkatan PH vagina menyebabkan wanita hamil rentan
terhadap infeksi vagina. Sistem pertahanan tubuh ibu tetap utuh, kadar
immunoglobin dalam kehamilan tidak berubah.
2.
Trimester II
Janin sebenarnya merupakan benda asing bagi ibunya karena
hasil pertemuan dua gamet yang berlainan. Namun ternyata janin dapat diterima
oleh sistem imunitas tubuh, hal ini merupakan keajaiban alam dan belum ada
gambaran jelas tentang mekanisme sebenarnya yang berlangsung pada tubuh ibu
hamil. Imunologi dalam janin kebanyakan dari ibu ke janin sekitar 16 minggu
kehamilan dan terus meningkat ketika kehamilan bertambah, tetapi sebagian besar
lagi diterima janin selama empat minggu terakhir kehamilan.
3.
Trimester III
Human chorionic gonadotropin dapat menurunkan respons
imun wanita hamil. Selain itu, kadar IgG, IgA, dan IgM serum menurun mulai dari
minggu ke 10 kehamilan, hingga mencapai kadar terendah pada minggu ke 30 dan
tetap berada pada kadar ini hingga trimester terakhir. Perubahan-perubahan ini
dapat menjelaskan peningkatan risiko infeksi yang tidak masuk akal pada wanita
hamil.
E.
Sistem Perkemihan
1.
Trimester I
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing
tertekan sehingga sering timbul kencing. Dan keadaan ini hilang dengan tuanya
kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Bila satu organ
membesar, maka organ lain akan mengalami tekanan, dan pada kehamilan tidak
jarang terjadi gangguan berkemih pada saat kehamilan. Ibu akan merasa lebih
sering ingin buang air kecil. Pada bulan pertama kehamilan kandung kemih
tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada kehamilan normal fungsi ginjal
cukup banyak berubah. Laju filtrasi glomerulus dan aliran plasma ginjal
meningkat pada awal kehamilan. Ginjal wanita harus mengakomodasi tuntutan
metabolisme dan sirkulasi ibu yang meningkat dan juga mengekskresi produk
sampah janin. Ginjal pada saat kehamilan sedikit bertambah besar, panjangnya
bertambah 1-1,5 cm. Ginjal berfungsi paling efisien saat wanita berbaring pada
posisi rekumbeng lateral dan paling tidak efisien pada saat posisi telentang.
Saat wanita hamil berbaring telentang, berat uterus akan menekan vena ekava dan
aorta, sehingga curah jantung menurun. Akibatnya tekanan darah ibu dan frekuensi
jantung janin menurun, begitu juga dengan volume darah ginjal.
2.
Trimester II
Kandung kencing tertekan oleh uterus yang membesar mulai
berkurang, karena uterus sudah mulai keluar dari uterus. Pada trimester 2,
kandung kemih tertarik ke atas dan keluar dari panggul sejati ke arah abdomen.
Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser ke arah atas.
Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukkan oleh hyperemia kandung kemih dan
uretra. Peningkatan vaskularisasi ini membuat mukosa kandung kemih menjadi
mudah luka dan berdarah. Tonus kandung kemih dapat menurun. Hal ini
memungkinkan distensi kandung kemih sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang
sama, pembesaran uterus menekan kandung kemih, menimbulkan rasa ingin berkemih
walaupun kandung kemih hanya berisi sedikit urine.
3.
Trimester III
Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun ke
pintu atas panggul keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung
kencing akan mulai tertekan kembali. Selain itu juga terjadi hemodilusi
menyebabkan metabolisme air menjadi lancar. Pada kehamilan tahap lanjut, pelvis
ginjal kanan dan ureter lebih berdilatasi daripada pelvis kiri akibat
pergeseran uterus yang berat ke kanan akibat terdapat kolon rektosigmoid di
sebelah kiri. Perubahan-perubahan ini membuat pelvis dan ureter mampu menampung
urin dalam volume yang lebih besar dan juga memperlambat laju aliran urin.