Saturday, 21 February 2015

Desain Penelitian

Posted by Unknown at 15:08 1 comments
A.  PENGERTIAN DESAIN PENELITIAN
Penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu secara sistematik dalam waktu yang lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku untuk dapat menghasilkan suatu penelitian yang baik. Untuk dapat menghasilkan penelitian yang baik maka dibutuhkan desain penelitian untuk menunjang dan memberikan hasil penelitian yang sistematik. Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian, yang membantu penelitian dalam pengumpulan dan menganalisis data.
Desain artinya rencana, tetapi apabila dikaji lebih lanjut kata itu dapat berarti pula pola, potongan, bentuk, model, tujuan dan maksud (Echols dan Hassan Shadily, 1976). Sedangkan Lincoln dan Guba (1985) mendefinisikan rancangan penelitian sebagai usaha merencanakan kemungkinan-kemungkinan tertentu secara luas tanpa menunjukkan secara pasti apa yang akan dikerjakan dalam hubungan dengan unsur masing-masing. Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar (1999) adalah rencana dan struktur  penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian.
Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian (Suchman, 1967), dalam pengertian yang lebih sempit, desain penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisis data saja. Namun demikian desain penelitian juga bermakna proses-proses penelitian yang dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu: (1) Perencanaan penelitian. Proses perencanaan penelitian dimulai dari identifikasi, pemilihan serta rumusan masalah, sampai dengan perumusan hipotesis serta kaitannya dengan teori dan kepustakaan yang ada. (2) Pelaksanaan penelitian atau proses operasional penelitian (Moh Nazir, 1983).
Dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan oleh para peneliti mengenai pengertian desain penelitian, maka dapat ditarik kesimpulkan bahwa definisi desain penelitian adalah sebuah kerangka kerja atau rencana untuk melakukan studi yang akan digunakan sebagai pedoman dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Kegiatan pengumpulan dan analisis data tersebut untuk menggali penyelesaian sebuah permasalahan yang muncul. Rencana perlu dibuat agar pengumpulan data dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien, sehingga penelitian tersebut juga dapat memberikan hasil yang memuaskan bagi peneliti.
Definisi lain mengatakan bahwa desain (design) penelitian adalah rencana atau rancangan yang dibuat oleh peneliti, sebagai ancar-ancar kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam pengertian yang lebih luas, desain penelitian mencakup proses-proses berikut :
1.   Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian
2.   Pemilihan kerangka konsepsual
3.   Memformulasikan masalah penelitian dan membuat hipotesis
4.   Membangun penyelidikan atau percobaan
5.   Memilih serta memberi definisi terhadap pengukuran variabel-variabel
6.   Memilih prosedur dan teknik sampling yang digunakan
7.   Menyusun alat serta teknik untuk mengumpulkan data
8.   Membuat coding, serta mengadakan editing dan prosesing data
9.   Menganalisa data dan pemilihan prosedur statistik
10. Pelaporan hasil penelitian
 
B.  RUANG LINGKUP DESAIN PENELITIAN
Ruang lingkup desain penelitian terdiri dari :
1.   Penentuan judul penelitian
Penentuan judul penelitian sangat penting karena dapat mengetahui objek penelitian, subjek apa yang akan diteliti, dimana lokasi penelitian, tujuan yang ingin dicapai dan sasarannya. Ada beberapa petunjuk bagi seorang peneliti yang akan melakukan penelitian dalam menentukan judul, yaitu :
a.       Keterjangkauan
b.      Ketersedian data
c.       Signifikansi judul yang dipilih
Beberapa syarat yang diperlukan untuk memilih judul penelitian, yaitu :
a.   Judul ditetapkan setelah peneliti mengetahui permasalahan pokok objek yang akan diteliti.
b.      Judul penelitian mencerminkan keseluruhan isi penulisan.
c.       Judul harus mengemukakan kalimat singkat dan jelas.
2.   Penentuan masalah penelitian
Masalah penelitian itu merupakan pedoman kegiatan penelitian. Dalam penelitian, masalah berperan untuk mengarahkan kegiatan penelitian. Tanpa rumusan masalah, peneliti akan kesulitan dalam pelaksanaan dan penulisan penelitiannya. Beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam perumusan masalah yaitu:
a.       Masih berhubungan dengan judul utama
b.      Mendukung tujuan penelitian
c.       Mengembangkan atau memperluas cara-cara pengujian suatu teori
d.      Memberikan  sumbangan terhadap metodologi penenelitian
e.       Menunjukan variabel-variabel yang diteliti
3.   Penentuan tujuan penelitian.
Tujuan penelitian dapat mengarahkan peneliti untuk mencapai sasaran dan target yang ingin dicapai. Tujuan penelitian terdiri dari tujuan utama dan tujuan sekunder. Tujuan utama sangat erat kaitannya dengan judul dan masalah penelitian, sedangkan tujuan sekunder sangat tergantung pada keinginan pribadi seorang peneliti, dengan kata lain lebih bersifat subjektif bagi peneliti.
4.   Penentuan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan namun perlu menguji kebenarannya. Ada beberapa cara untuk merumuskan hipotesis antara lain yaitu sebagai berikut.
a.  Hipotesis yang baik harus searah dan mendukung Judul, Masalah, dan Tujuan Penelitian
b.      Hipotesis harus dapat diuji dengan data empiris
c.       Hipotesis harus bersifat spesifik
Dalam statistik dikenal ada dua macam hipotesis, yaitu :
a.  Hipotesis nol (H0) : hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan dan tidak ada perbedaan atau tidak ada pengaruh antara variabel yang satu dengan variabel yang lain.
b.  Hipotesis alternative (Ha) : hipotesis yang menyatakan adanya ketidaksamaan atau adanya perbedaan dan saling mempengaruhi antara variabel satu dengan variabel yang lain.
5.      Penentuan populasi dan sampel penelitian
Yang harus diperhatikan dalam menentukan sampel penelitian adalah :
a.       Tentukan populasi di daerah penelitian
b.      Tentukan jumlah sampel yang akan diteliti
c.       Tentukan metode pengambilan sampel
6.   Penentuan metode dan teknik pengumpulan data
Metode pengumpulan data terdiri atas beberapa cara yaitu :
a.       Observasi
b.      Wawancara
c.       Angket
d.      Pengumpulan data skunder
e.       Pengumpulan data melalui penginderaan jauh
7.   Penentuan cara mengolah dan menganalisis data

C. JENIS-JENIS DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian memiliki beragam jenis dilihat dari berbagai perspektif, antara lain :
1.      Desain penelitian dilihat dari perumusan masalahnya
a.       Penelitian eksploratif
Penelitian yang menguji suatu variabel yang diyakini kebenarannya sehingga menghasilkan penemuan-penemuan baru.
b.      Penelitian uji hipotesis
Suatu penelitian yang menguji hipotesis/pernyataan yang telah ada menggunakan metode-metode tertentu.
2.      Desain penelitian berdasarkan metode pengumpulan data
a.       Penelitian pengamatan
Metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Proses pengamatan terdiri atas :
1)      Persiapan termasuk latihan (training)
2)      Memulai interaksi
3)      Pengamatan dan pencatatan
4)      Menyelesaikan tugas lapangan
b.      Penelitian survai
Metode pengumpulan data dengan menggunakan instrumen untuk meminta tanggapan dari responden tentang sampel. Pada dasarnya survai terdiri atas :
1)      Wawancara
2)      Kuesioner
3.      Desain penelitian dilihat dari pengendalian variabel-variabel oleh peneliti
a.       Penelitian eksperimental
Meneliti hubungan sebab akibat antara variabel-variabel penelitian dengan melakukan suatu proses percobaan untuk mendapatkan hasil yang presisi.
b.      Penelitian ex post facto
Suatu penelitian yang telah diteliti sebelumnya sehingga data-datanya (variabel-variabel penelitiannya) dapat dilacak kembali melalui kuisioner atau dokumen-dokumen yang relevan dengan penelitian tersebut.
4.      Desain penelitian menurut tujuannya
a.       Penelitian deskriptif
Penelitian yang digunakan untuk memberikan penjelasan yang obyektif, justifikasi, dan evaluasi sebagai bahan pengambilan keputusan bagi yang berwenang dari suatu fakta atau kejadian yang sedang terjadi.
b.      Penelitian komparatif
Membandingkan suatu permasalahan yang sama pada suatu obyek yang berbeda.
c.       Penelitian asosiatif
Menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya  atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain.
5.      Desain penelitian dilihat dari lingkungan studi
a.       Studi lapangan
Penelitian yang dilakukan melalui proses pembelajaran secara langsung atau dapat juga dilakukan dengan menggali pengetahuan dari orang yang ahli dibidangnya.
b.      Eksperimen lapangan
Penelitian yang proses pengujian data yang diteliti dengan melakukan suatu percobaan sampai mendapatkan data yang akurat.
c.       Eksperimen laboratorium
Untuk mendapatkan kebenaran dari penelitian maka suatu variabel atau data-datanya harus diteliti dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium sebagai sarana pembantunya.

D. DESAIN DALAM MERENCANAKAN PENELITIAN
Dalam memecahkan masalah, desain dimulai dengan mengadakan penyelidikan dan evaluasi terhadap penelitian yang sudah dikerjakan dan diketahui. Dari penyelidikan itu, akan terjawab bagaimana hipotesis dirumuskan dan diuji dengan data yang diperoleh untuk memecahkan suatu masalah. Dari sini pula dapat dicari beberapa petunjuk tentang desain yang akan dibuat untuk penelitian yang akan dikembangkan.

E. DESAIN PELAKSANAAN PENELITIAN
Desain pelaksanaan penelitian meliputi proses membuat percobaan atau pengamatan serta memilih pengukuran-pengukuran variabel, memilih prosedur dan teknik sampling, alat-alat untuk mengumpulkan data kemudian membuat coding dan editing, serta memproses data yang telah dikumpulkan.
Suchman (1967) telah membagi desain dalam pelaksanaan penelitian, yaitu :
1.      Design sampel
2.      Design alat (instrument)
3.      Design administrasi
4.      Design analisis

F.     DASAR DAN KOMPONEN RANCANGAN, SERTA PENYUSUNAN SISTEMATIKA
1.      Dasar Rancangan Penelitian
Rancangan pada dasarnya merupakan keseluruhan proses pemikiran, penentuan matang tentang hal-hal yang akan dilakukan dan merupakan landasan yang dijadikan dasar penilaian oleh peneliti sendiri maupun oleh orang lain terhadap kegiatan penelitian. Sehingga rancangan penelitian bertujuan untuk memberikan pertanggungjawaban terhadap semua langkah yang akan diambil. Baik atau tidaknya sebuah penelitian sangat tergantung pada rancangan yang dibuat oleh peneliti. Agar rancangan dapat memperkirakan hal-hal apa yang akan dilakukan dan dipegang selama penelitian, perumusannya harus memperhatikan kriteria sebagai berikut.
a.      Mencakup semua kegiatan yang akan dilakukan, seperti masalah, tujuan, sumber data, saran prasarana, dan lain-lain.
b.     Disusun secara sistematis dan logis sehingga memberi kemungkinan kemudahan bagi peneliti dalam melaksanakan dan bagi orang lain dalam melakukan penelitian.
c.       Harus dapat memperkirakan sejauh mana hasil yang akan diperoleh, serta usaha-usaha yang mungkin dilakukan untuk memperoleh hasil secara efektif dan efisien.

2.      Komponen Rancangan Penelitian
Berdasarkan perumusan dalam penyusunan rancangan penelitian, maka komponen suatu rancangan penelitian meliputi :
a.       Masalah
Sebelum membuat penelitian, peneliti harus mengetahui masalah apa yang akan ia teliti.
b.      Bentuk atau jenis data yang dibutuhkan
Peneliti harus mengetahui untuk melakukan penelitian yang ia inginkan, bentuk dan jenis data seperti apa yang cocok untuk digunakan sebagai bahan penunjang penelitiannya.
c.       Tujuan penelitian
Seorang peneliti harus tahu apa tujuan penelitiannya.
d.      Kepentingan penelitian
Kepentingan penelitian adalah apa yang menjadi manfaat atau untuk apa penelitian dibuat.
e.       Masalah sampling
Seorang peneliti harus mengetahui dimana ia akan mengambil data dan siapa yang menjadi objek data.
f.       Masalah jadwal kegiatan
Agar penelitian dapat selesai sesuai dengan target waktu yang diinginkan, maka seorang peneliti hendaknya membuat jadwal kegiatan.
g.      Masalah organisasi kegiatan dan alokasi biaya
Hal ini sangat penting, karena akan mempengaruhi hasil penelitian. Jika peneliti dapat mengorganisasi kegiatan dengan baik, maka penelitian dapat berjalan lancar. Faktor biaya juga tidak kalah penting. Seorang peneliti harus pandai dalam mengalokasikan biaya agar penelitiannya dapat dilakukan secara efisien.
h.      Hipotesis penelitian
Sebelum memulai penelitian, hendaknya peneliti mempunyai hipotesis penelitian terlebih dahulu.
i.        Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yaitu bagaimana cara peneliti dalam memperoleh data yang akan digunakan sebagai bahan penelitian.
j.        Teknik pengolahan data
Teknik pengolahan data merupakan bagaimana cara peneliti mengolah data yang sudah ia dapat sehingga dapat menjadi sebuah penelitian.
k.      Pola dan sistematika laporan
Pola dan sistematika laporan merupakan bentuk atau struktur sistematika laporan penelitian sebagai hasil akhir dari kegiatan penelitian.
  
G.    BEBERAPA KESALAHAN DALAM DESAIN PENELITIAN
Dalam melakukan sebuah penelitian salah satu hal yang sangat penting adalah membuat rancangan atau desain penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menunjukkan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Tanpa desain yang benar seorang peneliti tidak akan melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas.
Meskipun peneliti membuat desain penelitian sebaik mungkin akan tetapi tidak menutup kemungkinan masih terdapat kesalahan yang seringkali terjadi dalam melakukan penelitian. Agar tercapai pembuatan desain yang benar, maka peneliti perlu menghindari sumber potensial kesalahan dalam proses penelitian secara keseluruhan. Kesalahan-kesalahan tersebut adalah :
1.      Kesalahan dalam Perencanaan
Kesalahan dalam perencanaan dapat terjadi saat peneliti membuat kesalahan dalam menyusun desain yang akan digunakan untuk mengumpulkan informasi. Kesalahan ini dapat terjadi pula bila peneliti salah dalam merumuskan masalah. Kesalahan dalam merumuskan masalah akan menghasilkan informasi yang tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sedang diteliti. Cara mengatasi kesalahan ini adalah dengan mengembangkan proposal dengan baik dan benar yang secara jelas menspesifikasikan metode dan nilai tambah penelitian yang akan dijalankan.
2.      Kesalahan dalam Pengumpulan Data
Kesalahan dalam pengumpulan data terjadi pada saat peneliti melakukan kesalahan dalam proses pengumpulan data di lapangan. Kesalahan ini dapat memperbesar tingkat kesalahan yang sudah terjadi dikarenakan perencanaan yang tidak matang. Untuk menghindari hal tersebut data yang dikoleksi harus merupakan representasi dari populasi yang sedang diteliti dan metode pengumpulan datanya harus dapat menghasilkan data yang akurat. Cara mengatasi kesalahan ini adalah kehati-hatian dan ketepatan dalam menjalankan desain penelitian yang sudah dirancang dalam proposal.
3.      Kesalahan dalam Melakukan Analisis
Kesalahan dalam melakukan analisis dapat terjadi pada saat peneliti salah dalam memilih cara menganalisis data. Selanjutnya, kesalahan ini disebabkan pula adanya kesalahan dalam memilih teknik analisis yang sesuai dengan masalah dan data yang tersedia. Cara mengatasi masalah ini adalah dengan membuat justifikasi prosedur analisis yang digunakan untuk menyimpulkan data dan memanipulasi data.
4.      Kesalahan dalam Pelaporan
Kesalahan dalam pelaporan terjadi jika peneliti membuat kesalahan dalam mempresentasikan hasil-hasil penelitian. Kesalahan seperti ini terjadi pada saat memberikan makna hubungan-hubungan dan angka-angka yang diidentifikasikan dari tahap analisis data. Cara mengatasi kesalahan ini adalah hasil analisis data diperiksa oleh orang-orang yang benar-benar ahli dan menguasai masalah hasil penelitian tersebut.
Selain kesalahan-kesalahan yang telah dijabarkan di atas, kesalahan juga seringkali terjadi dari dalam diri peneliti sendiri. Kesalahan tersebut juga berpengaruh dalam proses penyelesaian penelitian, misalnya adalah sifat malas yang dimiliki oleh peneliti, sifat yang suka menunda-nunda pekerjaan, sifat pantang menyerah yang tidak dimiliki peneliti, sifat yang tidak mempunyai target untuk menyelesaikan penelitian dan lain sebagainya. Sifat-sifat yang seperti itu harus dikesampingkan agar penelitian dapat selesai dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Adapula kesalahan yang juga terjadi karena adanya faktor dari luar, misalnya adalah keadaan lingkungan yang tidak mendukung penelitian yaitu dari keluarga dan teman-teman yang tidak mendukung serta masyarakat, dosen pembimbing yang tidak sejalan dengan mahasiswa yang melakukan penelitian, proses birokrasi yang sulit pada saat akan mengambil sampel, atau keterbatasan sampel itu sendiri. Untuk itu, faktor-faktor yang seperti itu selayaknya dapat diminimalisir agar penelitian yang kita lakukan dapat berjalan dengan lancar, baik, dan sesuai dengan tujuan serta memberikan manfaat bagi orang banyak.
>> Read More

Hipotesis

Posted by Unknown at 14:59 0 comments
1.      Definisi Hipotesis
Menurut Wikipedia hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Secara umum hipotesa atau hipotesis merupakan dugaan/anggapan yang diungkap berdasarkan teori-teori yang dipelajari untuk menyelesaikan suatu masalah. Dugaan/anggapan awal sering disebut hipotesis nol atau hipotesis awal. Sedangkan dugaan/anggapan yang diperlukan untuk menyanggah dugaan awal disebut hipotesis alternatif. Kebenaran dari suatu hipotesis masih perlu diuji melalui beberapa pengujian. Apakah faktor-faktor yang disebutkan dalam penelitian mampu untuk membuktikan kebenaran dari suatu hipotesis.
Namun secara bahasa, hipotesis berasal dari bahasa Yunani dimana kata “hypo” yang artinya di bawah, dan “thesis” yang artinya pendirian, pendapat yang ditegakkan. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan mengenai definisi hipotesis secara bahasa adalah suatu pernyataan ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian dimana kebenarannya masih belum terbukti atau dikatakan masih perlu diuji kebenarannya. Pengertian hipotesis menurut beberapa ahli yaitu Sutrisno Hadi adalah tentang pemecahan masalah dimana seringkali peneliti tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dengan sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan segi demi segi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk tiap-tiap segi, dan mencari jawaban melalui penelitian yang dilakukan.

2.      Kegunaan Hipotesis
Dalam menyusun suatu hipotesis seorang peneliti akan menentukan arah dan tujuan dari penelitian yang dilakukan, namun perlu dibahas juga mengenai kegunaan hipotesis itu sendiri. Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian kuantitatif. Terdapat beberapa alasan utama yang mendukung pandangan ini :
a.   Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan antarvariabel yang diteliti dimana langsung dapat diuji dalam penelitian.
b.   Hipotesis memberikan arah dan tujuan dalam penelitian.
c.  Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti.
d.   Untuk mengetahui apakah memang secara signifikan terdapat perbedaan atau pengaruh antara variabel-variabel yang diteliti.
e.   Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penelitian. Akan sangat memudahkan peneliti jika mengambil setiap hipotesis secara terpisah dan menyatakan kesimpulan yang relevan dengan hipotesis tersebut. 
f.   Hipotesis merupakan tujuan khusus yang dapat menguji suatu teori. Dengan demikian hipotesis juga menentukan sifat-sifat data yang diperlukan untuk menguji pernyataan tersebut. Secara sangat sederhana, hipotesis menunjukkan kepada para peneliti apa yang harus dilakukan. Fakta yang harus dipilih dan diamati adalah fakta yang ada hubungannnya dengan pertanyaan tertentu.
g.  Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang. Untuk dapat sampai pada pengetahuan yang dapat dipercaya mengenai masalah pendidikan, peneliti harus melangkah lebih jauh daripada sekedar mengumpukan fakta yang berserakan, untuk mencari generalisasi dan antar hubungan yang ada diantara fakta-fakta tersebut. Antar hubungan dan generalisasi ini akan memberikan gambaran pola, yang penting untuk memahami persoalan. Pola semacam ini tidaklah menjadi jelas selama pengumpulan data dilakukan tanpa arah. Hipotesis yang telah terencana dengan baik akan memberikan arah dan mengemukakan penjelasan. Karena hipotesis tersebut dapat diuji dan divalidasi (pengujian kesahiannya) melalui penyelidikan ilmiah, maka hipotesis dapat membantu kita untuk memperluas pengetahuan.

3.      Karakteristik Hipotesis
Suatu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan atau membiaskan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni :
a.   Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
b.  Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
c.  Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna.
d.   Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.
e.       Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
f.    Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, sebagaimana kondisi di bawah hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
g.   Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit.

4.      Macam-macam Hipotesis
Menurut bentuknya, hipotesis dibagi menjadi tiga, yaitu :
a.   Hipotesis penelitian/hipotesis kerja
Hipotesis penelitian/kerja: Hipotesis penelitian merupakan anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang sedang dikaji. Dalam hipotesis ini peneliti mengaggap benar hipotesisnya yang kemudian akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian hipotesis dengan mempergunakan data yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
b.   Hipotesis operasional
Hipotesis operasional merupakan hipotesis yang bersifat obyektif. Artinya peneliti merumuskan hipotesis tidak semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji dengan menggunakan data yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan netral atau secara teknis disebut Hipotesis nol (H0).
H0 digunakan untuk memberikan keseimbangan pada hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
c.   Hipotesis statistik
Hipotesis statistik merupakan jenis hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik. Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif).
Misalnya: H0: r = 0; atau H0: p = 0

5.      Tahap-tahap Pembentukan Hipotesis Secara Umum
Tahap-tahap pembentukan hipotesa pada umumnya sebagai berikut:
a.       Penentuan masalah
Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah mendapat bentuk perumusan masalah.
b.      Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis).
Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa preliminer, pengamatan tidak akan terarah. Fakta yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak relevan dengan masalah yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara eksplisit dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
c.       Pengumpulan fakta
Dalam penalaran ilmiah, di antara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer yang perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta. 
d.      Formulasi hipotesa
Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat hubungan tertentu di antara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.
e.       Pengujian hipotesa
Artinya, mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diamati dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi (pembenaran). Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Falsifikasi (penyalahan) terjadi jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan hipotesa. Bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi (corroboration). Hipotesa yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
f.       Aplikasi/penerapan
Apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus dapat diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.

6.      Hubungan Hipotesis dan Teori
Hipotesis ini merupakan suatu jenis proposisi yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas suatu masalah dan kemudian diuji secara empiris. Sebagai suatu jenis proposisi, umumnya hipotesis menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang di dalamnya pernyataan-pernyataan hubungan tersebut telah diformulasikan dalam kerangka teoritis. Hipotesis ini diturunkan atau bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Pernyataan hubungan antara variabel, sebagaimana dirumuskan dalam hipotesis, hanya merupakan dugaan sementara atas suatu masalah yang didasarkan pada hubungan yang telah dijelaskan dalam kerangka teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah penelitian. Sebab, teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan sebagai jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari dalam penelitian. Dalam penelitian kuantitatif peneliti menguji suatu teori. Untuk meguji teori tersebut, peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori.
Agar teori yang digunakan sebagai dasar penyusunan hipotesis dapat diamati dan diukur dalam kenyataan sebenarnya, teori tersebut harus dijabarkan ke dalam bentuk yang nyata yang dapat diamati dan diukur. Cara yang umum digunakan ialah melalui proses operasionalisasi, yaitu menurunkan tingkat keabstrakan suatu teori menjadi tingkat yang lebih konkret yang menunjuk fenomena empiris atau ke dalam bentuk proposisi yang dapat diamati atau dapat diukur. Proposisi yang dapat diukur atau diamati adalah proposisi yang menyatakan hubungan antar-variabel. Proposisi seperti inilah yang disebut sebagai hipotesis.
Jika teori merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-konsep (pada tingkat abstrak atau teoritis), hipotesis merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-variabel (dalam tingkat yang konkret atau empiris). Hipotesis menghubungkan teori dengan realitas sehingga melalui hipotesis dimungkinkan dilakukan pengujian atas teori dan bahkan membantu pelaksanaan pengumpulan data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan penelitian. Oleh sebab itu, hipotesis sering disebut sebagai pernyataan tentang teori dalam bentuk yang dapat diuji (statement of theory in testable form), atau kadang-kadanag hipotesis didefinisikan sebagai pernyataan tentatif tentang realitas (tentative statements about reality).
Oleh karena teori berhubungan dengan hipotesis, merumuskan hipotesis akan sulit jika tidak memiliki kerangka teori yang menjelaskan fenomena yang diteliti, tidak mengembangkan proposisi yang tegas tentang masalah penelitian, atau tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan teori yang ada. Kemudian, karena dasar penyusunan hipotesis yang reliabel dan dapat diuji adalah teori, tingkat ketepatan hipotesis dalam menduga, menjelaskan, memprediksi suatu fenomena atau peristiwa atau hubungan antara fenomena yang ditentukan oleh tingkat ketepatan atau kebenaran teori yang digunakan dan yang disusun dalam kerangka teoritis. Jadi, sumber hipotesis adalah teori sebagaimana disusun dalam kerangka teoritis. Karena itu, baik-buruknya suatu hipotesis bergantung pada keadaan relatif dari teori penelitian mengenai suatu fenomena sosial disebut hipotesis penelitian atau hipotesis kerja. Dengan kata lain, meskipun lebih sering terjadi bahwa penelitian berlangsung dari teori ke hipotesis (penelitian deduktif), kadang-kadang sebaliknya yang terjadi.

7.      Macam-macam Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis adalah metode pengambilan keputusan yang didasarkan atas analisa data, baik dari percobaan yang terkontrol maupun dari observasi. Dalam statistika sebuah hasil bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian tersebut hampir tidak mungkin disebabkan oleh faktor yang kebetulan, sesuai dengan batas probabilitas yang sudah ditentukan sebelumnya. Uji hipotesis kadang disebut juga "konfirmasi analisa data". Keputusan dari uji hipotesis hampir selalu dibuat berdasarkan pengujian hipotesis nol. Ini adalah pengujian untuk menjawab pertanyaan yang mengasumsikan hipotesis nol adalah benar. Berikut ini adalah macam-macam pengujian hipotesis.
a.       Berdasarkan Jenis Parameternya
1)      Pengujian hipotesis tentang rata-rata (Uji 2 sampel berpasangan)
2)      Pengujian hipotesis tentang proporsi
3)      Pengujian hipotesis tentang varians (ANOVA)
b.      Berdasarkan Jumlah Sampelnya
1)      Pengujian sampel besar (n > 30)
2)      Pengujian sampel kecil (n ≤ 30)
c.       Berdasarkan Jenis Distribusinya
1)      Pengujian hipotesis dengan distribusi Z
2)      Pengujian hipotesis dengan distribusi t (t-student)
3)      Pengujian hipotesis dengan distribusi χ2 (chi-square)
4)      Pengujian hipotesis dengan distrbusi F (F-ratio)
d.      Berdasarkan Arah atau Bentuk Formulasi Hipotesisnya
1)      Pengujian hipotesis dua pihak (two tail test)
2)      Pengujian hipotesis pihak kiri atau sisi kiri

3)      Pengujian hipotesis pihak kanan atau sisi kanan
>> Read More
 

Puspa Wardhani Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review